close
AKREDITASI B

SMA Negeri 1 Kurik

JL. Ahmad Yani

Bersama maju menyongsong ilmu pengetahuan dan teknologi dengan bekal budi pekerti yang luhur dan berakhlak mulya

MAKALAH KEBAHASAAN

Jum'at, 02 November 2018 ~ Oleh JUMENENG ~ Dilihat 39 Kali

Makalah

SINTAKSIS  FRASA DAN MACAMNYA

 

OLEH:

Nama : JUMENENG, S.S

Guru Bidang Studi Bahasa Indonesia

 

Pendahuluan

 

  1. Latar Belakang

Banyak ahli bahasa yang berpendapat tentang  frasa dengan kata majemuk. Ada yang membedakannya dan ada juga yang mengatakan bahwa keduanya itu sama. Seperti yang telah dipelajari dalam morfologi bahwa kata majemuk adalah adalah satuan gramatis yang masih bisa dibagi menjadi bagian yang lebih kecil. Frasa adalah satuan konstruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan (Keraf, 1984:138). Frasa juga didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonprediktif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2009:22).

Menurut Prof. M. Ramlan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan (Ramlan, 2001:139). Artinya sebanyak apapun kata tersebut asal tidak melebihi jabatannya sebagai Subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan, maka masih bisa disebut frasa. Contoh: gedung sekolah itu, yang akan pergi, sedang membaca, sakitnya bukan main, besok lusa, di depan. Jika contoh itu ditaruh dalam kalimat, kedudukannya tetap pada satu jabatan saja.

Gedung sekolah itu(S) luas(P).

Dia(S) yang akan pergi(P) besok(Ket).

Bapak(S) sedang membaca(P) koran sore(O).

Pukulan Budi(S) sakitnya bukan main(P).

Besok lusa(Ket) aku(S) kembali(P).

Bu guru(S) berdiri(P) di depan(Ket).

Jadi, walau terdiri dari dua kata atau lebih tetap tidak melebihi batas fungsi. Pendapat lain mengatakan bahwa frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat.

Contoh:

Mereka(S) sering terlambat(P).

Mereka(S) terlambat(P).

Pada kalimat pertama kata ‘mereka’ yang terdiri dari satu kata adalah frasa. Sedangkan pada kedua kata berikutnya hanya kata ‘sering’ saja yang termasuk frasa karena pada jabatan itu terdiri dari suku kata dan kata ‘sering sebagai pemadunya. Pada kalimat kedua, kedua katanya adalah frasa karena hanya terdiri dari satu kata pada tiap jabatannya.

Dari kedua pendapat tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa frasa bisa terdiri dari satu kata atau lebih selama itu tidak melampaui batas fungsi atau jabatannya yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, atau pun keterangan. Jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung pada jumlah fungsi yang terdapat pada kalimat itu juga.

Berdasarkan paparan di atas, jumlah frasa yang terdapat dalam sebuah kalimat bergantung pada jumlah fungsi yang terdapat dalam kalimat itu juga. Dalam makalah ini akan diuraikan frasa numeralia, frasa preposisi, dan frasa-frasa lain. Frasa-frasa lain yang dimaksud yakni modalitas, cara, alat, tempat, waktu, aspek, dan suasana. Semua itu merupakan pemadu dalam kalimat.

Tinjauan Pustaka

  1. Pengertian Sintaksis

Banyak pengertian dan definisi tentang sintaksis. Tentu saja diantara definisi-definisi yang diberikan oleh para ahli tersebut, memiliki persamaan maupun perbedaan, baik dalam jumlah aspek yang tercakup di dalamnya, maupun redaksi atau kata-kata yang digunakannya.

Sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata, kelompok kata menjadi kalimat. Menurut istilah sintaksis dapat mendefinisikan : bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat, klausa, dan frasa (Ibrahim, dkk:1). Pendapat lain mengatakan, sintaksis adalah studi kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar, frase dan kalimat (Moeliono, 1976:103). Dan definisi tersebut dapat dikemukakan bahwa satuan yang tercakup dalam sintaksis adalah frase dan ka1imat, dengan kata sebagai satuan dasarnya. Sintaksis (Yunani:Sun + tattein = mengatur bersama-sama) ialah bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa. (Keraf, 1978:153). Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan terbesar dalam sintaksis dan setiap bahasa mempunyai kaidah sintaksis tersendiri yang tidak dapat diterapkan begitu saja pada bahasa yang lain.

Bidang sintaksis (Inggris, syntax) menyelidiki semua hubungan antar kelompok kata (atau antar-frase) dalam satuan dasar sintaksis itu. Sintaksis itu mnempelajari hubungan gramatikal di luar batas kata, tetapi di dalam satuan yang kita sebut kalimat (verhaar, 2008:70).

Istilah sintaksis (Belanda, syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase (Ramlan, 2001:18).

Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan para ahli bahasa tersebut, dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan kaidah kombinasi kata menjadi satuan gramatik yang lebih besar yang berupa frase, klausa, dan kalimat, serta penempatan morfem-morfem supra sekmental (intonasi) sesuai dengan struktur sematik yang diinginkan oleh pembicara sebagai dasarnya.

Pembahasan sintaksis mencakup frase, klausa, kalimat, dan morfem-morfem suprasegmental (intonasi). Tetapi, dalam sintaksis, pembicaraan mengenai jenis kata mutlak diperlukan, karena (1) struktur frase dan kalimat hanya dapat dijelaskan melalui penggolongan (penjenisan) kata (Ramlan, 1976:27), dan (2) Studi tentang kalimat suatu bahasa yang merupakan rangkaian yang berstruktur dari kata-kata, tidak akan banyak artinya tanpa mempelajari yang unsur-unsur itu sendiri (Samsuri, 1985:74).

  1. Frasa

Pengertian frasa dapat dijelaskan dari dua sudut pandang, yaitu (1) frasa sebagai suatu fungsi dan (2) frasa sebagai suatu bentuk. Sebagai suatu fungsi, frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat, Samsuri (dalam Ba’dulu, 2005:58). Sebagai suatu bentuk, frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang non-predikat, Kridalaksana dkk (dalam Ba’dulu, 2005:58).  Bersifat non-predikatif berarti bahwa hubungan kata-kata yang membentuk frasatidak  menyebabkan fungsi subjek dan predikat dalam konstruksi tersebut.

Sejalan dengan pendapat ini, Keraf (dalam Ba’dulu,2005:58) mengatakan bahwa pada prinsipnya frasa adalah satuan yang terdiri dari dua kata atau lebih yang secara gramatikal bernilai sama dengan sebuah kata yang tidak bisa berfungsi sebagai subjek atau predikat dalam konstruksi itu. Sebaliknya, bila satuan itu yang termasuk dalam sebuah kalimat, memiliki subjek dan predikat maka disebut klausa. Ramlan (dalam Ba’dulu, 2005:58) mengemukakan bahwa frasa ialah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi.

Dari batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa frasa mempunyai dua sifat, yaitu (1) frasa merupakan satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih, dan (2) frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi, yang berarti bahwa frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi, yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan.

Frasa dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria berikut: (1) hubungan unsur dalam struktur dan (2) jenis kata yang menjadi unsur intinya. Berdasarkan hubungan dalam struktur, frasa dibedakan atas frasa endosentris, yaitu frasa berdistribusi paralel dengan intinya, dan frasa eksosentris, yaitu frasa yang berdistribusi komplementer dengan unsure-unsurnya. Karena tidak ada unsure-unsurnya yang berdistribusi parallel, maka frasa tersebut dikatakan tidak mempunyai inti.

Sintaksis frasa dapat dipandang menurut struktur intrafrasalnya dan menurut struktur ekstrafrasalnya. Misalnya, frasa preposisional dapat berfungsi sebagai objek secara ekstrafrasal, seperti dalam contoh, Guru menguraikan tentang teori ini. Kemudian sebagai konstituen keterangan secara ekstrafrasal pula, seperti dalam contoh, Olah tanah dengan cangkul (Verhaar, 2008:347).

Berdasarkan jenis kata yang menjadi unsur intinya, frasa dibedakan atas frasa nomina, frasa verba, frasa adjektiva, frasa adverbial, frasa preposisi, frasa numeralia, dan frasa pronominal serta frasa-frasa lain yang menjadi pemadu dalam kalimat. Lebih lanjut makalah ini akan membahas tentang frasa numeralia, farsa preposisi, dan frasa-frasa lain yang dapat menjadi pemadu dalam kalimat.

 

Pembahasan

  1. Frasa Numeralia

Frasa numeralia ialah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat. Frasa numeralia (FNu) menunjukan bilangan.

Misal:

1a. Anak itu mempunyai anjing dua (ekor)

1b. Anjing (anak) itu dua (ekor). (tanpa pemadu anak)

Kalimat (1b) di atas itu tanpa pemadu anak hanya dapat dikatakan dalam bahasa Indonesia dengan cara lain, tetapi yang tidak mempergunakan numeralia sebagai frasa, melainkan sebagai keterangan saja. Kalimat (1a) kata anak menjadi penanda frasa numeralia, dan menjadi pembeda dari frasa nomina. Agaknya, jelas sekarang bahwa di samping frasa anjing dua (ekor) pada (1a) yang merupakan frasa nomina, juga terdapat bentukan dua (ekor) pada (1b) yang merupakan frasa numeralia dalam bahasa Indonesia. Di samping itu pula, pertanyaan: Berapa (pokok)? Biasa memperoleh jawaban yang berbentuk FNu, seperti sepuluh, enem buah, tiga ratus ekor, lima puluh orang.

frasa numeralia ada 2.

  1. FNu alami: ekor, buah, orang, dan kuntum, helai, tangkai, pucuk, batang.
  2. FNu bersifat ukuran: depa, keranjang, kaleng, bungkus, liter.

Pengolongan ini tidak manasuka karena kebiasaan maupun kemungkinan dilakukan.

misal:

2a. Tiga depa tali

2b. *Tiga depa jeruk 

Penggolongan alami mungkin tinggal tiga macam, yaitu orang, ekor, dan buah, yang masing-masing untuk insane, hewan, dan barang atau benda, sedangkan yang lain-lain yang diturunkan dari bahasa Melayu seperti kuntum, helai, tangkai, pucuk, batang, lembar, dan bilah tidak terpakai secara tetap lagi bilah belum dapat dinyatakan telah ditinggalkan sama sekali.

Penggolongan yang bersifat suatu ukuran ialah umpamanya depa, keranjang, pikul, kaleng, bungkus, dan sebagainya, yaitu barang-barang yang biasa atau wajar dipakai untuk mengukur barang atau benda, baik yang padat, cair, atau dalam bentuk yang lain. Pemakaian penggolongan ini tidak (dapat) manasuka, baik karena kebiasaan maupun karena kemungkinan dilakukan.

  1. Frasa Preposisi

Di dalam Bahasa Indonesia terdapat sejumlah kalimat yang agak meragukan kedudukan pemadunya yang kedua. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam bahasa kita tidak terdapat apa yang disebut verba penghubung, seperti umpaya to be dalam bahasa Inggris atau zijn dalam bahasa Belanda. Memang tardapat kata ada yang pada umumnya dipakai sebagai verba eksistensi dan juga untuk pemfokusan. Tetapai pemakaian kata ada dan adalah tidak selalu dapat diterapkan. Demikian pula asumsi adanya suatu verba sesudah frasa nomina subjek sering tak dapat diterapkan secara tetap. Marilah kita perhatikan kalimat-kalimat berikut:

3a. Ayam ini dari Bangkok.

  1. Rumah mereka di samping mesjid.
  2. sepeda itu tanpa lampu.

Agaknya, tiap pemakai Bahasa Indonesia dapat menerima bahwa di samping kalimat-kalimat (3) terdapat pula kalimat-kalimat seperti:

4a. Ayam ini (di)datang(kan) dari Bangkok.

  1. Rumah kami ada di samping mesjid.
  2. Kantor Ahmad ada di tengah kota.

          FN + V (ada) + FP

5a. *Sepeda itu ada tanpa lampu.

  1. *Kalung ini ada untuk ibu.
  2. *Anak itu ada dengan neneknya.

Bahwa antara FN dan frasa preposisi (dari Bangkok, di samping mesjid, tanpa lampu, di tengah kota) mungkin terdapat verba ada. Agaknya suatu tatabahasa bahasa Indonesia akan lebih sederhana jika menganggap (4a) sebagai dasar, sedangkan (3a) sebagai derivasinya masing-masing, yaitu dengan melepaskan verba (termasuk ada). Hanya sayang sekali bahwa di sampaing hal di atas yang baik ini, terdapat kalimat seperti (3c) yang tidak mungkin diasumsikan merupakan derivasi dari kalimat yang antara frasa nomina dan frasa preposisinya terdapat verba, karena memang bentuknya seperti (5a).

Kenyataan di atas menghendaki adanya sebuah tipe kalimat dalam Bahasa Indonesia yang terdiri atas FN dan FP, sehingga bentuk pemerian struktur kalimat itu ialah FN+FP. Dengan kata lain kalimat (3) dipecah menjadi dua, yaitu (3a,b) yang merupakan derivasi, dan (3c) merupakan dasar.

Pembicaraan di atas menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat FP, baiklah kita lihat bagaimana macamnya. FP terdiri atas preposisi dan FN, sehingga bentukannya dapat dinyatakan dengan pemerian struktur P + FN. FP ditentukan oleh banyaknya kemungkinan kmbinasi P dengan FN. Kita ketahui bahwa FN dapat berbentuk sebuah nomina, sebuah nama, atau sebuah pronominal, maka FP dapat berupa bentukan-bentukan sebagai berikut.

FP: Preposisi dan FN (FP: P + FN)

            FN dapat terdiri atas 2N, 3N.

             Misal:       - dari kayu                                     - dengan Nani

                              - untuk Ahmad                              - bagi dia      

Masing-masing frasa preposisi di atas didahului oleh salah satu sarana nomina. Kita ketahui pula bahwa FN di atas itu dapat memperoleh salah satu kata sarana sebagai pemadunya, sehingga tidak hanya nomina, nama, dan pronominal saja yang bergabung dengan preposisi, melainkan ada tambahan salah satu kata sarana, sehingga kita dapatkan FP itu berbentuk seperti berikut:

  • Untuk beberapa keluarga                           -  dari emas saja
  • Tanpa Wati ini         -bagi Ahmad itu          -   dengan hanya dia

 

Agaknya tidak sukar menggambarkan FP yang terdiri atas P dan FN yang lain, yaitu yang terdiri atas dua N, tiga N atau empat N. Masing-masing mungkin didahului oleh salah satu sarana nomina.

Perlu dijelaskan di sini, mungkin agak berlebihan dalam menuliskan suatu tatabahasa (dan sebenarnya juga dalam bidang ilmu lain), kita ingat syarat-syarat kesederhanaan, kehematan, dan ketuntasan. Penambahan sebuah pola akan menambah kaidah, tetapi pengurangan pola akan menambah kehematan. Sudah tentu hal-hal itu mesti diimbangi oleh kebenaran pengadaan pola itu sendiri atau tidak. Jika pola baru itu sendiri telah dapat dibenarkan, tentulah kaidah yang akan ditambahkan itu sia-sia belaka. Dengan kata lain, kita tidak dapat tanpa dasar-dasar yang maton menabahkan pola-pola baru.

 

  1. Frasa-frasa lain

FN, FV, FA, FNu, dan FP merupakan pemadu wajib dan menjadi unsur kalimat dasar yang baku. Ada juga pemadu-pemadu lain yang bersifat manasuka dan menjadi unsur tambahan pada kalimat dasar. Jadi, unsure-unsur itu mungkin terdapat tetapi mungkin pula tidak. Oleh karena merupakan pemadu-pemadu manasuka, lagi untuk membedakannya dari pemadu-pemadu wajib, frasa-frasa tidak wajib itu akan dijelaskan dalam makalah ini.

Ada dua kelompok frasa manasuka, yaitu yang memberi keterangan tambahan pada seluruh kalimat (dasar), dan yang lain member keterangan tambahan pada predikat tertentu saja. Perbedaan antara kedua kelompok itu kami jelaskan sambil lalu. Yang pertama merangkum keterangan modalitas, cara, termasuk alat, tempat, dan waktu.yang kedua merangkum keterangan aspek, dan  suasana. Selanjutnya frasa-frasa itu kami sebut saja modalitas, cara, alat, tempat, waktu, aspek dan suasana.

  1. Modalitas

Modalitas ialah keterangan yang menyatakan sikap pembicara atau penulis terhadap hal yang dibicarakan, yaitu keadaan, peristiwa, tindakan,atau sikap terhadapatau pembaca sendiri. Hal yang terakhir ini khususnya apabila pembicara ataupenulis membicarakan pendengar atau pembaca itu sendiri. Keterangan itu memberi jawaban atas petanyaan:

            Bagaimana sikap pembicara/penulis tentang pernyataannya itu?

Karena sifat pertanyaan itu sebenarnya mengenai seluruh kalimat, lagi yang ditanyakan ialah sikap pembicara atau penulis, maka jawaban atas pertanyaan itu pun merupakan ungkapan sikap pembicara. Jadi, untuk menjawab pertanyaan kalimat berikut ini:

6a. Orang-orang memperhatikan peraturan.

  1. Kami tidak usah datang.
  2. Petani Indonesia mendirikan koperasi.

     akan mendapat tambahan frasa modalitas, seperti sebaiknya, seyogianya, hendaknya. Sehingga menjadi seperti di bawah ini.

7a. Sebaiknya orang-orang memperhatikan     peraturan.

7b. Seyogianya kami tidak usah datang.

7c. Petani Indonesia hendaknya mendirikan   koperasi.

Yang baru merupakan pikiran pembicara atau penulis semata-mata, dan tidak menyatakan kebenaran suatu peristiwa atau tindakan atau keadaan. Dengan modalitas pembicara atau penulis menyatakan sikapnya terhadap “kalimat” atau pernyataannya. Demikianlah frasa-frasa lain yang pertama di luar frasa-frasa pemadu wajib kalimat dasar.

  1. Cara

Cara ialah keterangan tambahan tentang peristiwa, kegiatan, atau keadaan itu berlangsung. Oleh karena itu, kami menyebutnya keterangan cara serta member jawaban atas pertanyaan:

            bagaimana hal itu berlangsung?

8a. Pejabat itu kaya dengan mendadak.

  1. Gadis itu lambat-lambat mengayuh sepedanya.
  2. Tiba-tiba pesawat itu jatuh.

        Terdapat kecenderungan pemakai Bahasa Indonesia hanya memakai ajektiva saja sebagai cara. Namun hal itu tidak selalu dapat diterima atau mungkin mempunyai pengertian yang berbeda. Misal:

            9a. Dokter itu dengan cepat memeriksa pasiennya.

            9b. Dokter itu cepat memeriksa pasiennya.

     2. Alat

Keterangan alat memberi pengertian tambahan tentang dengan apa sesuatu dikerjakan atau dilaksanakan. Frasa itu terdiri atas preposisi dengan diikuti FN, seperti dengan bambu runcing, dengan pena ini, dan dengan beberapa peluru. Apabilah cara mungkin dinyatakan dengan hanya ajektiva saja, yang kadang-kadang tidak sama artinya atau bahkan menjadi tidak gramatikal, demikian pula alat yang kadang-kadang dapat dinyatakan tanpa preposisi dengan,  namun kebanyakan alat mesti memakai preposisi dengan seperti kalimat berikut:

            10a. Banyak orang membayar barangnya dengan cek.

                   *Banyak orang membayar barangnya cek.

            10b. Kami membelah kayu dengan  kampak.

                   *Kami membelah kayu kampak.

            11a. Hartawan itu membantu kami dengan uang.

  1.     *Hartawan itu membantu kami uang.

Permutasi alat tidak pernah dapat menanggalkan preposisi dengan sehingga kita selalu akan memperoleh kalimat (11a) bukan kalimat (11b).

      3. Tempat

Keterangan tempat menunjukkan lokasi terjadinya peristiwa, kegiatan, atau keadaan. Frasa tempat terdiri atas preposisi di, ke, dari, diikuti FN seperti, di tempat ini, ke kota itu, dari tepi pantai ( P+FN) dan dengan menambahkan di depan frasa itu berbagai ungkapan keterangan jarak biarpun P+FN tetap inti jawaban. Misal:

            12a. Mereka tinggal jauh dari sekolah kami.

  1. Bis malam itu jatuh dua depa dari tepi jurang.
  2. Monumen Diponegoro dibangun beberapa kilometer  dari kota.

Preposisi dalam keterangan tempat dapat sederhana, seperti di, ke, dari, tetapi dapat pula rumit, seperti di atas, di bawah, ke luar, ke dalam, dari atas, dan dari bawah. Keterangan tempat menjawab pertanyaan: P + mana Pokok + ulasan?

       4. Waktu

Keterangan yang terakhir dalam kelompok pertama ialah waktu. Kata waktu menunjukkan jangka waktu atau lama kegiatan, proses, keadaan sesuatu,  seperti detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun. Kata-kata semacam itu biasanya didahului oleh numeralia sehingga terdapat frasa-frasa seperti: sepuluh detik, enam menit, tiga jam, lima hari, satu decade, dua minggu, tujuh bulan, Sembilan tahun, empat abad, dan delapan windu.

Di samping jangka waktu kata-kata waktu diatas dapat juga menunjukan “satuan” waktu, biasanya mendapat tambahan kata sarana ini dan itu dibelakangnya, misal:

                        -detik ini          -bulan ini         -hari itu            -abad itu

Terdapat juga kata-kata waktu yang menunjukkan “titik” kewaktuan, yaitu yang mengacu ke kewaktuan tertentu. Beberapa menujukkan waktu yang sedang berjalan, lain lagi menunjukkan waktu lampau dan yang akan dating.  Misal : tadi, kini, nanti, kemarin, sekarang, besok, lusa. Ada yang terdapat  nama, sedangkan kata pukul dan tahun dapat diperjelas dengan angka kardinal. Misal : hari Senin, bulan Januari, bulan Syawal, pukul satu, tahun tujuh puluh lima.

Kata hari dapat didahului oleh keterangan yang menunjukkan bagian dari kata itu. Bahkan kebanyakan pemakai bahasa Indonesia sekarang menghilangkan saja kata hari sehingga tinggal kata yang menunjukkan bagian waktu itu saja. Di samping itu, kata-kata bagian hari “titik” waktu dalam suatu hari dapat pula dinyatakan dengan waktu sholat bagi kaum muslimin, yang sudah tentu diambil dari bahasa Arab. Kedua hal itu misalnya, pagi (hari), siang, petang, sore, malam, dan Subuh, Lohor, Asar, Magrib, Isya.

 Terdapatlah kata-kata yang menunjukkan kewaktuan yang tidak tentu lamanya, sering berantung pada peristiwa itu sendiri. Kata lama, umpamanya dalam kalimat (13a) dan (13b) berbeda sekali jangka waktunya, yaitu menurut konteks kalimat-kalimat itu sehingga jelas relativitas kewaktuan itu bergantung pada peristiwa yang merupakan bingkai kata lama itu dipakai, misalnya:

            13a. Tadi pagi aku lama berbicara dengan dia.

  1. Waktu aku belajar di Yogja aku lama    tinggal di Jetis.

Kata-kata lain yang sejenis, artinya tidak pasti jangka waktunya, biarpun tidak serelatif kata lama, rupanya dibatasi oleh se- yang merupakan bagian tiap-tiap kata itu, misal: sebentar, sejenak, selalu, senantiasa, seperokok, sepenanak nasi, sepemakan sirih, dan sebagainya.

Ada partikel waktu yang dipakai untuk menunjukkan kewaktuan, biasanya di depan waktu atau frasa waktu dan di depan ungkapan atau kalimat. Misal : sebelum, selama, sesudah, menjelang, sewaktu, permulaan.

Kata waktu dapat pula diulang dengan pengertian menyangatkan, diikuti atau tidak oleh partikel pengeras benar, betul, atau sekali. Reduplikasi dapat diterapkan pada nama hari, tetapi dengan pengertian “keheranan”. Misalnya, pagi-pagi, mingu-minggu, sore-sore, malam-malam benar.

  

   5. Aspek dan Suasana

Keterangan aspek dan suasana tidak memberikan keterangan tambahan pada seluruh kalimat, melainkan hanya pada predikatnya saja.        

Aspek dinyatakan oleh kata, akan, sedang dan telah yang tidak dapat dipisahkan dengan predikatnya. Tidak semua anggota aspek mempunyai distribusi ataupun “tingkah-laku” yang sama, seperti belum, masih, dan sudah.

Misal: 14a. Adik telah membaca Max Havelaar.

  1. Telah membaca Max Havelaar adik.
  2. *Adik membaca Max Havelaar telah.

                    *Membaca Max Havelaar adik telah.

                    *Telah adik membaca Max Havelaar.

                    *Membaca Max Havelaar telah adik.

            15a. Belum makan (pokok)?– Belum! (atau sudah!).

  1. *Belum makan (pokok)?– Ya! (atau *tidak!).

Jika kita pelajari benar-benar pengertian kelompok belum, masih, dan sudah serta kelompok akan, sedang, dan telah, akan terdapat suatu perbedaan yang halus di antara keduanya. Karena kelompok pertama boleh dikatakan menyatakan keadaan, sedangkan yang kedua menyatakan suatu kegiatan mungkin untuk memudahkan pembedaanya dapat kita sebut yang pertama aspek statif dan yang kedua aspek aktif. Pembedaaan ini hanya diberikan supaya pemakaian aspek itu dapat lebih tepat dilakukan dan memperoleh kategori-kategori pikiran yang sesuai, sehingga dengan demikian bahasa kita dapat menjadi alat komunikasi yang lebih efisien. Namun, apabila pembedanya dua kelompok itu ada gunanya untuk ketegasan amanat, terdapatlah di pihak lain nuansa-nuansa yang ditimbulkan oleh penggabungan dua kata aspek atau lebih, seperti contoh-contoh di bawah ini:

Adik sudah akan membaca Max Havelaar.

Beberapa orang masih akan sakit malaria.

Anaknya akan telah dua orang tahun depan.

Keluarga kami masih sedang di rumah.

Keterangan suasana dapat memberikan keterangan tambahan pada kalimat dasar, khususnya pada predikat, suasana “keleluasaan”, “kemampuan,” “keterpaksaan”, “kepastian”, dan bagi subjek kalimat itu. Misal: kata boleh, dapat, mesti.

16a. Guru harus sabar sekali di kelas.

  1. Guru sabar sekali di kelas, harus.
  2. Harus guru sabar sekali di kelas.
  3. Harus sabar sekali guru di kelas.
  4. Guru masih harus sabar sekali di kelas.
  5. Guru harus masih sabar sekali di kelas.   Timbul pertanyaan, bagaimana urutan aspek dan suasana sebenarnya? Apakah mesti aspek dulu baru suasana kemudian. Hal itu tergantung rupanya pada pengertian yang ingin disampaikan atau mungkin ditonjolkan. Seperti pada contoh kalimat di bawah:

17a. Anggota DPR pada tahun-tahun itu telah boleh tukang warung.

17b. Pengusaha akan dapat meminjam uang pada bank.

17c. Juri akan mesti beberapa orang.

Aspek itu dikenakan pada suasana yang pada gilirannya memberikan suasana pada predikat dasar. Tetapi, jika suasana dulu, kemudian diikuti oleh aspek maka suasana itu boleh dikatakan dikenakan pada aspek, yang pada gilirannya memberikan pengertian kewaktuan pada predikat dasar. Baiklah untuk memahami hal itu, kita bandingkan kalimat (17) dengan perangkat kalimat berikut ini:

18a. Anggota DPR pada tahun-tahun itu boleh telah pension.

18b. Pengusaha harus akan meminjam uang pada bank.

18c. Guru harus masih sabar sekali di kelas.

Biarpun kedua kemungkinan itu dapat terjadi, salah satu urutan hendaklah dipilih sebgai dasar sehingga yang lain sebagai turunan. Dalam hal ini, kriterium yang kami pakai ialah frekuensi urutan aspek suasana dan suasana aspek yang kami bandingkan, dan yang lebih tinggi kami pilih sebagai dasar, sedangkan yang rendah kami tentukan sebagai turunan. Kami dapatkan urutan aspek dahulu, suasana kemudian, jauh lebih tinggi frekuensinya daripada urutan suasana dahulu aspek kemudian, sehingga dapat diputuskan bahwa urutan pertama itu dasar, sedangkan urutan kedua adalah turunan.

 

Simpulan

 

Berdasarkan pembahasan di atas, frasa preposisi, frasa numeralia, dan frasa pronominal serta frasa-frasa lain yakni, modalitas, cara, alat, tempat, waktu, aspek, dan suasana menjadi pemadu dalam kalimat.

Kalimat (1a) kata anak menjadi penanda frasa numeralia, dan menjadi pembeda dari frasa nomina. Agaknya, jelas sekarang bahwa di samping frasa anjing dua (ekor) pada (1a) yang merupakan frasa nomina, juga terdapat bentukan dua (ekor) pada (1b) yang merupakan frasa numeralia dalam bahasa Indonesia. Di samping itu pula, pertanyaan: Berapa (pokok)? Biasa memperoleh jawaban yang berbentuk FNu, seperti sepuluh, enem buah, tiga ratus ekor, lima puluh orang. FNu ada dua yakni alami dan bersifat ukuran.

Di dalam Bahasa Indonesia terdapat sejumlah kalimat yang agak meragukan kedudukan pemadunya yang kedua. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam bahasa kita tidak terdapat apa yang disebut verba penghubung, seperti umpaya to be dalam bahasa Inggris atau zijn dalam bahasa Belanda. Memang tardapat kata ada yang pada umumnya dipakai sebagai verba eksistensi dan juga untuk pemfokusan. Tetapai pemakaian kata ada dan adalah tidak selalu dapat diterapkan. Demikian pula asumsi adanya suatu verba sesudah frasa nomina subjek sering tak dapat diterapkan secara tetap.

Masing-masing frasa preposisi di atas didahului oleh salah satu sarana nomina. Kita ketahui pula bahwa FN di atas itu dapat memperoleh salah satu kata sarana sebagai pemadunya, sehingga tidak hanya nomina, nama, dan pronominal saja yang bergabung dengan preposisi, melainkan ada tambahan salah satu kata sarana.

FN, FV, FA, FNu, dan FP merupakan pemadu wajib dan menjadi unsur kalimat dasar yang baku. Ada juga pemadu-pemadu lain yang bersifat manasuka dan menjadi unsur tambahan pada kalimat dasar. Jadi, unsure-unsur itu mungkin terdapat tetapi mungkin pula tidak. Oleh karena merupakan pemadu-pemadu manasuka, lagi untuk membedakannya dari pemadu-pemadu wajib, frasa-frasa tidak wajib itu akan dijelaskan dalam makalah ini.

Ada dua kelompok frasa manasuka, yaitu yang memberi keterangan tambahan pada seluruh kalimat (dasar), dan yang lain member keterangan tambahan pada predikat tertentu saja. Perbedaan antara kedua kelompok itu kami jelaskan sambil lalu. Yang pertama merangkum keterangan modalitas, cara, termasuk alat, tempat, dan waktu.yang kedua merangkum keterangan aspek, dan  suasana. Selanjutnya frasa-frasa itu kami sebut saja modalitas, cara, alat, tempat, waktu, aspek dan suasana.

 

Daftar Pustaka

Ba’dulu, Abdul Muis. Morfosintaksis. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Chaer , Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka cipta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.

Ibrahim, Syukur, dkk. 2002. Bahan Ajar Sintaksis Bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang.

Jos Daniel Parera. 1994. Sintaksis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Samsuri. 1985. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Satra Hudaya.

Samsuri. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka.

Verhaar. 2004. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT