close
AKREDITASI B

SMA Negeri 1 Kurik

JL. Ahmad Yani

Bersama maju menyongsong ilmu pengetahuan dan teknologi dengan bekal budi pekerti yang luhur dan berakhlak mulya

CERPEN

Jum'at, 02 November 2018 ~ Oleh JUMENENG ~ Dilihat 195 Kali

Secangkir Luka dan Rindu

(Oleh: Jumeneng)

Dibacakan dalam Bengkel Sastra, Merauke,  21 Agustus 2015 dimuat dalam Tabloit Widyawara Unesa edisi 6.

 

Amin……. Doa yang dibacakan oleh imam masjid Ar- rohman telah usai. Seperti biasa suguhan sederhana minuman air putih, teh hangat, kopi dan kacang tanah rebus disajikan. Tenggorokanku berasa kering setelah lama baca doa bersama-sama dengan pak modin serta para jamaah pengajian. Mataku melirik secangkir teh hangat yang letaknya tidak jauh dari tempat dudukku. Ya selisih dua orang di sampingku. Uap teh hangat terlihat meliuk-liuk serasa menggodaku untuk segera meneguknya. Jama’ah yang ikut berdoa juga mulai menikmati suguhan itu. Dengan perlahan kugampai secangkir teh yang dari tadi menggodaku itu dengan menjulurkan tangan sambil jongkok. Ketika secangkir teh hangat itu berhasil aku raih, ‘ bruuk ’. “ Aduh!”.  Secangkir teh hangat di tanganku tumpah disertai suara ‘pyarrr’ cangkir teh yang ku pegang hancur. Orang-orang disekitarkupun tersentak kaget. Aku ambruk karena keseimbangan tubuhku kurang pas. “alon-alon pak No” kata pak Pak Rohim yang duduknya tepat di sampingku. Aku berusaha bangkit, namun rasa sakit yang begitu kuat dari lututku menjalar ke seluruh tubuhku.

Dengan menahan rasa sakit yang begitu dahsyat menyerangku, aku merabah lututku yang terbentur lantai masjid Ar-rohman. Astagfirllah… “ mati aku”, kataku dalam hati. Ternyata tulang sendi lututku ternyata pecah. Kok bisa pecah pada hal cuman jatuh ambruk saja. Apakah karena usiaku yang sudah tua sehingga tulangku mulai keropos sehingga terkena benturan lantai keramik ini langsung pecah dan hancur. Aku menjerit dalam hati. Pak Rohim yang melihatku tak mampu bangkit akhirnya berusa membatuku duduk sambil memengumpulkan pecahan cangkir yang berserakan di depannya. “piye to pak No, kok sampek begini”. Tanya pak Rohim dengan cemas. “Aduh.. aduh…” aku tak mampu menjawab pertanyaan pak Rohim. Pak Rohim apa yang terjadi pada lututku yang hancur. Pak Rohim pun penasaran dengan meraba lututku. Astagfirllah… lututmu… pak Rohim terkejut hingga tak mampu melengkapi kalimat yang telah tersusun dalam pikirannya.

Sejenak jama’ah doa bersama mulai panik melihat apa yang telah ku alami. Pak Rohim membopong tubuhku yang ramping karena dimakan usia ke teras tepat di bawah sinar lampu agar lebih terang. Tanpa dikomando, para jama’ah mengerumuni pak No sembari bertanya-tanya dalam hati, “Kok bisa ambruk begitu sampai tulang sendi lututnya hancur”. Tanpa disuruh pak Budi beranjak dari tempat duduknya menuju motor yang diparkir di halaman masjid. Pak Budi yang ditemani pak Rohim membawa pak No menuju ke puskesmas yang kebetulan buka 24 jam.

13 menit kemudian aku sampai di Puskemas. Seorang perawat langsung membopongku ke tempat tidur. Dengan sigap perawat langsung menangani lututku yang hancur. “ Tahan ya pak” perawat itu memasukkan obat penghilang rasa sakit melalau pantatku. Jarum itu melesat dengan perlahan tapi pasti menusuk pantatku yang hanya dibalut daging kenyal. Aku hanya mendesis sambil menahan rasa nyeri akibat tusukan jarum yang membuat pori-poriku membesar. Perawat cantik itu mengambil perban dan membalut lukaku dengan tangannya yang lentik dan lembut. Tak membutuhkan waktu lama, perawat cantik itu selesai merajut lututku yang pecah seperti ketupat Makassar yang kenyal. Aku dibaringkan dalam tempat tidur yang beralaskan kasur yang mungkin sudah pernah dipakai tidur oleh seratus lusin manusia.

Selang tiga belas menit, istri dan anak laki-lakiku datang dengan wajah yang penuh tanya dan kecemasan. Kenapa kok bisa terjadi kayak gini pak? Aku tadi sudah melarangmu.. kamu sudah tua… gak usah ikut acara di Masjid. Apalagi malam hari. Kamu masih tetap maksa. Aku hanya meringis menahan sakit yang semakin lama makin merontokkan pertahanku. Akhirnya aku tak mengetahui apa yang terjadi dalam ruangan berukuran 3x4 meter ini.

Hangat sinar mentari pagi semburat menembus kain tipis yang menutup jendela membangunkanku. Ternyata aku tertidur akibat pengaruh obat yang dimasukkan oleh perawat ke tubuhku tadi malam. Aku menggeliat lemah sambil menahan sakitku. Dengan sayu kudengar suara yang tak asing buat telingaku.

Pak… gimana keadaanmu.. belum sempat pertanyaan anakku kujawab, anakku menyusul dengan pertanyaan yang membutuhkan jawaban rinci. Kenapa hal ini bisa terjadi? Gak tahu nak… Bapak juga gak tahu. Mungkin ini ujian buat Bapak dan kamu. Anakku hanya menarik nafas panjang sesekali mengusap bulir air yang menggenangi kelopak matanya. Sudah nak gak usah sedih. Bapak akan menerima semua ini. Dimana ibumu? Tanyaku dengan datar. Ibu pulang tadi malam pak, kasihan adik takut tidur sendiri di rumah. Oh… Kamu gak sekolah to? Gak pak, kalau aku ke sekolah lalu siapa yang jaga Bapak? Baiklah kalau begitu.

Ketika aku sedang berbincang dengan anak lelakiku, terdengar bunyi pintu terbuka. Istriku muncul dengan muka masam. Ya begini jadinya kalau tidak menuruti kata-kataku. Kamu ini tambah tua bukanya tambah baik malah jadi pembangkang. Coba kalau ikuti nasihatku gak bakalan jadi begini. Dikasih tahu kok malah nyelonong berangkat ke masjid. Memang masjid itu tempatnya uang. Atau dengan ikut  acara doa bersama Tuhan langsung memberimu uang. Tidak to.. eh malah celaka yang kamu dapatkan. Kalau mau uang itu ya  kerja bukan duduk bersila. Sudah Bu.. tak baik bicara begitu apalagi di depan anak kita.. Ah! Biar saja. Biar dia tahu kelakuan Bapaknya seperti apa. Cukup Bu… dengan menahan nyeri di lutut aku menghentikan celoteh istriku yang tak terkendali. Benar kata Bapak Bu, Ibu tak seharusnya bilang begitu, tidak baik. Diam kamu Wahyu! Kamu tahu apa tentang Bapakmu yang peyote ini. Lebih baik kamu pulang jemput adikmu di sekolahnya.

Tanpa kata, dengan tunduk Wahyu melangkahkan kakinya keluar kamar itu, “ Saya berangkat jemput adik dulu Pak, Bu sambil mencium tangan mereka. Istriku mengeluarkan isi kantung plasitik berkuran agak besar yang dibawanya dari rumah. Istriku ternyata membawakanku termos kecil yang berisikan teh hangat dan satu cangkir yang biasa kupakai setiap hari. Dituangnya teh hangat itu ke dalam cangkir lalu disuguhkan untukku. Nih, diminum tehnya biar badanmu agak hangat. Aku hanya tertegun mengingat kejadian semalam. “Sudah diminum tehnya entar keburu dingin”, dengan nada agak tinggi. Aku masih diam, dibenakku berkecamuk tentang kejadian yang ku alami semalam. Mengapa kejadian ini bisa terjadi, apakah ini hukuman bagiku atau memang benar apa yang diucapkan istriku tadi. Aku menepis pikiranku sendiri. Dengan gemetar tanganku mengangkat secangkir teh hangat yang disuguhkan istriku untukku. Ketika cangkir itu hendak menempel di bibirku yang kering, cangkirpun terlepas dari kekuasaanku jatuh dan hancur. Istriku melihat kejadian itu secepat kilat menyambarku dengan kata-kata yang belum pernah aku bayangkan.

“Heei, pak Tua. Kalau kamu memang sudah tidak mau lagi minum teh buatanku bilang saja. Biar aku cari laki-laki lain yang mau minum teh buatan tanganku ini. Dasar tua Bangka tidak tahu diri. Sudah untung aku masih merawatmu. Kenapa kamu tidak mati aja tadi malam. Biar aku bisa cepat nikah dengan pak Mal juragan beras bosmu itu”, suara lantang istriku memecahkan setiap pembuluh darahku.

“Appa”??….aku gemetar, gigiku yang tersisa bebeapa biji beradu keras. Darahku mengalir kencang, detak jantungku berpacu seperti derap langkah sepatu kuda di pacuan.  “Berarti benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa kau telah…..” “Dasar ass”…Aku tak mampu meneruskan kata-kataku. Jiwaku berkecamuk. Aku gak mungkin mengumpat istriku yang telah Sembilan belas tahun menemani tidurku. Wanita yang telah melahirkan anak-anakku. Melayani dan memuaskan hasratku setiap waktu yang ku mau. Aku gak akan menyamakan istriku dengan seekor binatang yang sebagian orang menganggap jijik. Aku tertunduk. air dari langitpun tak sanggup aku bendung membanjiri wajah pucatku. Mahkotaku telah runtuh siang itu. Istri yang menjadi kebanggaanku telah menikamku, menusukku, mencabik-cabik jiwaku. “Duh Gusti, ampuni hambamu yang dholim ini. Beri hamba kekuatan iman agar hamba bisa menerima ujian ini. Tanpa kata, istriku melesat keluar meninggalkanku dalam kehancuran.

Aku hanya bisa menatap layu… dalam keterpurukanku. Selang beberapa saat kemudian Wahyu datang bersama adiknya yang masih lugu. Anak gadis yang masih duduk di bangku kelas 1 SD itu langsung memelukku. “Bapak kenapa? Kok nangis?” Aku berusaha menjawab dengan menahan sesak di dada. “Bapak gak kenapa-napa Nak.” Bapak cuman jatuh tadi malam. Bapak nanti sembuh”. Anak gadisku mengangguk dan berkata “ iya Pak, kalau sudah sembuh antar dan jemput Ati sekolah ya..” “ya nak”, sahutku lirih.

“Ibu kemana Pak?” Tanya Wahyu kepadaku. “Ibu pulang mengemasi pakaian yang dijemur tadi pagi.” Oh”… sahut anak lelakiku. Kenapa cangkir ini pecah Pak? Pertanyaan wahyu serasa membuatku tertegun. Apa yang mesti ku jawab. Terpaksa aku berbohong agar anakku tidak tahu prahara apa yang telah menimpah kedua orang tuanya. Aku tak mau kedua anakku ikut menderita karena prilaku ibunya. Namun, biar bagaimanapun nantinya kedua anakku akan tahu dan ikut merasakan pahit getirnya prahara ini. Setidaknya untuk sementara ini anakku tidak tahu. “ cangkir itu tadi jatuh ketika ayah tidak sengaja menyenggolnya.” Oh.. tapi Bapak tidak kenapa-napa to?’. “Tidak Nak.”

Malam ini aku gelisa, pikiranku kalut, kupejamkan kedua mataku ini tapi prahara itu masih mengusikku. Kata-kata istriku masih menyambar-nyambar jiwaku. Terbersit penyesalan dibenakku. Mengapa aku begitu percaya dengan bosku. Orang yang begitu baik di depanku ternyata menikamku. Apakah memang sudah direncanakan oleh mereka berdua hingga usahaku bangkrut lalu pak Mal datang menawarkan jasa dengan memberiku pinjaman. Aku berusaha menepis prasangka burukku tapi tidak mungkin semua kebetulan. Istriku yang selalu meyakinkanku bahwa pak Mal orangnya baik, suka membatu masyarakat kecil. Kenyataannya pak Mal malah mencekikku hingga aku terpaksa menjual harta warisan yang diamanatkan oleh orang tuaku untuk menghidupi adik-adikku. Bahkan pak Mal sekarang juga merampas istriku dan memporak-porandakan rumah tanggaku. Apakah ini ujian buatku atau akibat dari kecerobohanku. Pikiranku berputar-putar terus tanpa henti seperti jarum jam diding yang menempel di dinding tepat di hadapanku. Tanpa terasa jarum jam tepat di angka 1. Aku melihat wahyu anakku telah lelap dalam buain angin malam yang masuk lewat celah-celah jendela. Namun, kedua mataku tak kuasa kupejamkan. Hingga rembulan berganti matahari.

Wahyu menggeliat sebentar lalu bangun. “Bapak kok sudah bangun?” Ya, Nak. Bapak bangun sepuluh menit sebelum kamu terbangun. Wahyu bergegas ke kamar keluar menuju kamar kecil di ruangan paling ujung di puskesmas.

Selang lima menit Wahyu keluar, seorang gadis cantik berpakain stelan warna putih bersih masuk ke dalam ruangan tempat aku tergeletak lesu. Gadis itu membawa jatah sarapan ku dan secangkir teh hangat disuguhkan dengan penuh perhatian. “Bapak, ini sarapan dan secangkir teh hangat’. ‘Silahkan dimakan agar ada asupan gizi untuk tubuh Bapak. “Jangan lupa tehnya diminum biar tubuh Bapak hangat.” Aku tertegun, secepat meteor ingataku menuju pada Sembilan belas tahun lalu..#

 

 

 

  1. TULISAN TERKAIT
  • ...

    PUISI

    Jum'at, 02 November 2018